Workshop

Workshop Sustainable Linked Loans dan Pembiayaan Proyek Berkelanjutan

Pada 12 Juni 2024, Climate Policy Initiative (CPI) Indonesia memfasilitasi lokakarya Sustainability Banking Hub (SBH) tentang Sustainable Linked Loans dan Sustainable Project Finance bekerja sama dengan ERM Indonesia.

Foto kelompok para profesional di ruang konferensi dengan meja bundar dan sebuah layar.

Acara ini berlangsung sehari setelah kunjungan edukatif ke PLTS Terapung Cirata dan menegaskan komitmen SBH untuk memadukan pembelajaran konseptual dengan pengalaman langsung di lapangan.

Workshop ini mempertemukan para ahli perbankan dan keuangan dalam sebuah sesi intensif berbagi pengetahuan mengenai dua instrumen pembiayaan berkelanjutan: Sustainability-Linked Loans (SLL) dan Pembiayaan Proyek Energi Terbarukan. Kegiatan ini disusun dalam empat sesi yang menggabungkan paparan para ahli dengan diskusi interaktif dalam kelompok kerja. Inisiatif ini sejalan dengan momentum kebijakan yang lebih luas di Indonesia, termasuk Peraturan Presiden No. 112/2022 tentang percepatan pengakhiran operasi PLTU batu bara, serta Peraturan Pemerintah No. 33/2023 tentang percepatan efisiensi energi, keduanya menciptakan permintaan yang signifikan terhadap modal swasta untuk proyek-proyek hijau.

Wawasan Utama

Lokakarya dibuka dengan pemaparan yang jernih mengenai tren keuangan berkelanjutan global. Menurut data BloombergNEF yang dikutip dalam sesi tersebut, penerbitan utang berkelanjutan mencapai rekor US$1,6 triliun pada 2021, dengan obligasi hijau saja menyumbang US$625 miliar. Hingga kuartal I 2024, gabungan pasar pinjaman berkelanjutan dan pinjaman terkait keberlanjutan mencapai EUR 212 miliar secara global — angka kuartal pertama tertinggi sejak pasar ini dimulai pada 2017. Di kawasan ASEAN, meskipun terjadi kontraksi 32% pada 2022, volumenya tetap kuat di angka US$36 miliar — hampir dua kali lipat dari level yang tercatat pada 2020.

Langkah ke Depan

Prospek yang lebih luas untuk instrumen perbankan berkelanjutan (SLL) dan pembiayaan proyek energi terbarukan di Indonesia sangat menjanjikan. Target bauran energi terbarukan nasional, 23% pada 2025 dan 25% pada 2030, digabungkan dengan dorongan kebijakan untuk mempercepat penghentian kapasitas PLTU batu bara, yang berarti akan ada pipeline proyek energi terbarukan dan industri transisi yang signifikan yang membutuhkan pembiayaan swasta dalam dekade mendatang. Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berpotensi tumbuh pesat seiring penurunan biaya teknologi dan melimpahnya sumber daya surya di Indonesia.

Namun, untuk membuka potensi jalur pembiayaan ini secara luas, lembaga keuangan Indonesia perlu melampaui sekadar mengenal pembiayaan konvensional dan benar-benar membangun kompetensi dalam uji tuntas E&S, penyusunan KPI, serta kerangka pembiayaan hijau yang kini diharapkan sebagai standar oleh pemberi pinjaman internasional dan investor yang berorientasi ESG. Inisiatif seperti Sustainable Banking Hub berperan penting dalam menjembatani kesenjangan tersebut, bukan hanya melalui berbagi pengetahuan, tetapi juga dengan membangun jejaring kolaboratif antara bank, regulator, dan penasihat yang memungkinkan terbentuknya pasar pembiayaan hijau yang berfungsi dengan baik.

Acara

Acara lainnya

Temukan lebih banyak konferensi, lokakarya, dan pertemuan dari seluruh hub.

Lihat Acara kami
Dua perempuan dan satu laki-laki memegang dokumen, berdiri di depan layar yang menampilkan gambar pembangkit listrik tenaga surya dan teks tentang penandatanganan perjanjian tripartit.
05 March 2026

Penandatanganan Perjanjian Tripartit Proyek Betun-Timor

Pada 5 Maret 2026, Climate Policy Initiative (CPI) Indonesia menandatangani perjanjian kerja sama tripartit dengan PT Indika Empat Mitra Timor (EMITS), PT Indika Tenaga Megah (ITM), dan Synkrona untuk mendukung studi kelayakan inisiatif energi bersih di Indonesia Timur.