Pada 23 Juli 2025, Climate Policy Initiative (CPI), bekerja sama dengan Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), menyelenggarakan dialog yang mempertemukan pengembang proyek tenaga surya, lembaga keuangan, penyedia teknologi, perusahaan asuransi, dan PLN untuk mengidentifikasi hambatan dalam memobilisasi pembiayaan swasta bagi proyek energi terbarukan, khususnya sistem fotovoltaik surya (Solar PV) dan sistem penyimpanan energi baterai (Battery Energy Storage Systems/BESS). Diskusi tersebut mengkaji berbagai tantangan dari perspektif pengembangan proyek maupun pembiayaan, serta membahas intervensi pemerintah dan pasar yang diperlukan untuk meningkatkan kelayakan proyek dalam memperoleh pembiayaan dan mempercepat investasi.
Dialog ini berlangsung ketika Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) Indonesia membuka peluang besar bagi pengembangan tenaga surya dan sistem penyimpanan energi, serta mengamanatkan peran yang lebih besar bagi Produsen Listrik Independen (IPP). Namun, para peserta menyoroti masih adanya kesenjangan antara rencana proyek yang ambisius dan proyek yang mampu menarik pembiayaan dengan persyaratan yang dapat diterima secara komersial.
Wawasan Utama
Bankabilitas untuk memperoleh pembiayaan bergantung pada fundamental struktur proyek, bukan hanya pada ketersediaan modal.
Para peserta menekankan bahwa penyandang dana membutuhkan arus kas yang dapat diprediksi, risiko yang telah dimitigasi, pembeli yang kredibel, kepastian biaya, kejelasan regulasi, serta ekuitas sponsor yang memadai. Dalam praktiknya, ketidakpastian terkait tarif, proses pengadaan dan negosiasi yang panjang, perizinan, pembebasan lahan, serta pengaturan kontraktual dapat menunda proyek atau menghambatnya mencapai penutupan pembiayaan.
Aspek ekonomi proyek dan kebutuhan pembiayaan sangat bervariasi berdasarkan lokasi dan jenis proyek
Proyek yang layak secara komersial dapat dibiayai melalui skema konvensional, tetapi proyek di daerah terpencil atau proyek yang menggantikan pembangkit listrik tenaga diesel mungkin hanya memiliki kelayakan yang terbatas dan memerlukan pembiayaan campuran. Faktor geografis juga menimbulkan kendala yang berbeda: proyek di luar Jawa dapat menghadapi infrastruktur transmisi yang lemah dan kebutuhan akan penyimpanan berbiaya tinggi, sedangkan proyek di Jawa menghadapi biaya lahan yang tinggi dan proses perizinan yang rumit.
Peningkatan keselarasan antara pengembang, penyandang dana, PLN, dan penyedia teknologi sangatlah penting
Perbedaan asumsi mengenai tarif, biaya pembiayaan, kinerja teknologi, risiko kontraktual, dan struktur proyek dapat mengurangi kelayakan proyek untuk memperoleh pembiayaan. Para peserta menekankan pentingnya menyelaraskan asumsi keuangan sejak awal dan menghindari asumsi penawaran yang tidak realistis, yang mungkin menghasilkan tarif menarik di atas kertas tetapi menyulitkan pelaksanaan proyek. Khusus untuk BESS, biaya degradasi dan penggantian perlu diperhitungkan dalam struktur proyek dan pembiayaan jangka panjang.
Keuangan publik dan intervensi kebijakan harus digunakan secara strategis untuk mendorong masuknya modal swasta
Diskusi tersebut mengidentifikasi berbagai instrumen, termasuk penjaminan, pembiayaan campuran, pendanaan konsesional berjangka panjang, hibah, dan mekanisme berbasis pasar, sebagai sarana potensial untuk mengatasi risiko yang tidak dapat ditanggung sendiri oleh pembiayaan komersial. Sumber daya publik dan donor dapat sangat bermanfaat bagi proyek-proyek yang kelayakannya masih terbatas, pengembangan tahap awal, serta pemenuhan persyaratan lingkungan dan sosial.
Langkah ke Depan
Membuka akses terhadap pembiayaan swasta memerlukan pergeseran dari sekadar mengidentifikasi hambatan menuju penanganan kendala spesifik di sepanjang siklus pengembangan proyek. Prioritas yang mengemuka dari dialog tersebut mencakup penyederhanaan proses pengadaan dan perizinan lingkungan, penguatan kepastian kontraktual dan regulasi, peningkatan koordinasi antarpemangku kepentingan proyek, serta penyesuaian instrumen pembiayaan dengan berbagai profil risiko proyek. Pengembangan serangkaian transaksi percontohan yang terstruktur dengan baik dapat membantu menunjukkan solusi yang dapat diterapkan dan menciptakan model yang selanjutnya dapat direplikasi dalam skala besar.