Pada 22 April 2026, Sustainable Banking Hub (SBH) menyelenggarakan Climate Risk Forum & Workshop, sebuah platform berbagi pengetahuan yang dirancang untuk memperdalam pemahaman lembaga keuangan tentang dampak risiko iklim dan memperkuat strategi manajemen risiko yang praktis.
Forum ini memberikan gambaran umum lanskap risiko iklim, sesi berbagi pengetahuan dan diskusi panel tentang penerapan manajemen risiko iklim, serta Lokakarya Praktik Uji Ketahanan Risiko Iklim yang dipimpin oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Workshop ini membahas kompleksitas metodologis dalam mengoperasionalkan Skenario Risiko dan Manajemen Iklim (Climate Risk and Management Scenarios/CRMS). Sebagai bagian dari acara tersebut, CPI juga membagikan wawasan dari program Bantuan Teknis (Technical Assistance/TA) terbaru mengenai penyusunan pedoman risiko iklim sektoral bagi Indonesia Infrastructure Finance (IIF), sebuah lembaga keuangan yang berfokus pada pembiayaan infrastruktur. Perwakilan dari Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pengembang proyek, perusahaan asuransi, dan lembaga keuangan diundang untuk terlibat dalam diskusi yang konstruktif mengenai pengelolaan risiko iklim.
Wawasan Utama
Diskusi Panel – Prospek Risiko Iklim: Menyelaraskan regulasi dan implementasi di seluruh ekosistem pembiayaan
Diskusi ini mempertemukan berbagai perspektif dari OJK sebagai regulator, Indonesia Infrastructure Finance (IIF) sebagai perwakilan lembaga keuangan, Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) sebagai pakar asuransi, dan PT Empat Mitra Indika Tenaga Surya (PT EMITS) sebagai perwakilan pengembang proyek untuk membahas kondisi terkini penerapan manajemen risiko iklim di Indonesia. Para panelis terkemuka tersebut berbagi pandangan mereka mengenai kesiapan regulasi, respons kelembagaan, serta tantangan operasional yang dihadapi lembaga keuangan dan pelaku usaha seiring dengan semakin terintegrasinya manajemen risiko iklim ke dalam kerangka tata kelola, manajemen risiko, dan pengungkapan. OJK menekankan bahwa integrasi risiko iklim tidak hanya dimaksudkan untuk meningkatkan ketahanan sistem keuangan, tetapi juga untuk mendukung debitur dan menciptakan ekosistem pembiayaan yang lebih kuat dan stabil.
Membangun momentum regulasi ini, para panelis berbagi perspektif praktis tentang bagaimana mengintegrasikan risiko iklim ke dalam keputusan pembiayaan dan investasi. IIF juga menjelaskan bagaimana pengelolaan risiko iklim membantu mengidentifikasi proyek-proyek yang tangguh, memperluas peluang di energi terbarukan, bangunan hijau, dan pembiayaan inovatif, sekaligus mendukung kinerja portofolio jangka panjang. Semua panelis menyoroti tantangan yang masih berlanjut, termasuk keterbatasan akses terhadap data berkualitas tinggi, kompleksitas pemodelan risiko fisik, serta kebutuhan akan keahlian lingkungan dan sosial yang lebih kuat di dalam lembaga keuangan. Mereka menekankan bahwa pengelolaan risiko yang proaktif, kolaborasi yang lebih baik, dan panduan sektoral yang jelas akan menjadi kunci untuk mempercepat pembiayaan yang tangguh terhadap iklim di Indonesia.
Diskusi tersebut dilanjutkan dengan sesi tanya jawab interaktif, di mana berbagai lembaga keuangan mengajukan pertanyaan mengenai jalur dekarbonisasi sektoral, metodologi penetapan target, kesiapan data, serta linimasa penerapan untuk regulasi dan persyaratan taksonomi yang akan datang. Menanggapi hal tersebut, para panelis menekankan pentingnya keterlibatan berkelanjutan dengan para pemangku kepentingan industri, yang didukung oleh panduan praktis, penerapan bertahap, dan upaya pengembangan kapasitas yang berkesinambungan untuk membantu lembaga keuangan memperkuat kemampuan manajemen risiko iklim.
Lokakarya Uji Ketahanan Risiko Iklim untuk Memperkuat Kapasitas Lembaga Keuangan
Lokakarya Uji Ketahanan Risiko Iklim yang dipimpin oleh OJK membekali para peserta dengan alat praktis untuk memperkuat kesiapan sektor keuangan dalam menghadapi risiko terkait iklim. Mengacu pada kerangka Climate Risk Management and Scenario Analysis (CRMS), sesi ini membahas bagaimana lembaga keuangan dapat mengintegrasikan pertimbangan iklim ke dalam tata kelola, manajemen risiko, dan praktik pengungkapan. Peserta diperkenalkan pada skenario iklim global dan domestik, termasuk jalur transisi dan perkembangan kebijakan spesifik Indonesia, untuk membantu memahami secara lebih baik potensi dampak perubahan iklim terhadap sektor perbankan.
Lokakarya ditutup dengan diskusi yang interaktif antara para peserta dan fasilitator mengenai prioritas implementasi, kesiapan data, serta penerapan praktis uji ketahanan risiko iklim di berbagai institusi. Dialog tersebut menegaskan komitmen bersama antara otoritas pengatur dan pelaku industri untuk meningkatkan kapabilitas pengelolaan risiko iklim, memperkuat ketahanan, dan mendukung transisi Indonesia menuju sistem keuangan yang lebih berkelanjutan.
Langkah ke Depan
Seiring risiko terkait iklim terus membentuk lanskap keuangan, kolaborasi antara regulator, lembaga keuangan, dan para pemangku kepentingan industri akan sangat penting untuk mempercepat penerapan yang efektif. Melalui penguatan kapasitas yang berkelanjutan, ekosistem data yang lebih kuat, dan panduan praktis, Indonesia berada pada posisi yang baik untuk semakin memperkuat sektor keuangan yang tangguh dan berkelanjutan.